Minggu, 22 Maret 2015

Fakta dan Mitos Hubungan Konsumsi Telur dan Timbulnya Penyakit Bisul

Selama ini banyak orang yang beranggapan bahwa penyebab penyakit bisul adalah akibat dari konsumsi telur yang berlebihan. Sebenarnya anggapan tersebut benar atau hanya mitos belaka. Pada artikel ini akan dibahas mengenai hubungan antara konsumsi telur dan kasus penyakit bisul yang terjadi.

Telur dan Bisul

Telur sudah dikenal oleh peradaban manusia sejak bertahun-tahun yang lalu sebagai salah satu bahan makanan yang memiliki nilai gizi yang baik. Dalam 100 gram telur ayam mengandung sebanyak 165 kalori, 12,8 gram protein, 11,5 gram lemak, 54 mg kapur, 2,7 mg zat besi dan 0,1 mg Vitamin B. Melihat komposisi kandungan telur diatas memang sudah tidak diragukan lagi bahwa telur adalah makanan yang memiliki gizi yang tinggi. Menurut Angka Kecukupan Gizi atau AKG Indonesia pada rentang anak usia 1 hingga 3 tahun diperlukan asupan energi sebesar 1.250 kalori, 23 gram protein dan 8 mg zat besi sehingga telur adala bahan makanan yang baik dikonsumsi untuk memenuhi angka kecukupan gizi anak.

Melihat nilai gizi yang sangat baik terkandung dalam telur adakah hubungan antara konsumsi telur dan penyakit bisul. Jawabannya adalah ada namun telur bukanlah penyebab dari seseorang menderita penyakit bisul atau bisulan. Bisul adalah salah satu infeksi pada kulit atau dalam istilah kedokteran dikenal juga dengan dermatitis yang biasanya disebabkan karena mikroorganisme. Mikroorganisme yang paling sering menginfeksi adalah bakteri Staphylococcus bakteri ini secara alami telah berada di dalam tubuh manusia seperti pada saluran pernafasan, telinga dan hidung. Jenis bakteri Staphylococcus yang sering menyebabkan timbulnya bisul adalah Staphylococcus aureus.

Bisul memiliki ciri-ciri timbulnya benjolan kemerahan pada kulit dan kemudian membesar hingga muncul mata nanah yang berwarna putih ditengahnya. Nanah dalam bisul ini berisi sel darah putih dan bakteri. Nanah muncul ketika sistem pertahanan tubuh atau sistem imun mulai melemah sehingga tubuh tidak sanggup untuk membunuh bakteri yang ada. Infeksi bakteri Staphylococcus penyebab bisul ini akan semakin mudah menyerang ketika seseorang memiliki goresan atau luka terbuka pada kulitnya dan orang yang memiliki sistem imun yang kurang. Selain bakteri Staphylococcus bisul juga dapat disebabkan oleh mikroorganisme lainnya seperti jamur atau kapang.

Lalu apa hubungannya konsumsi telur dan penyakit bisul. Hubungannya adalah konsumsi terlalu banyak telur dapat menyebabkan bisul sulit untuk disembuhkan terutama bagi orang yang memiliki alergi terhadap telur. Meskipun memiliki banyak kandungan gizi yang sangat bermanfaat untuk kesehatan namun telur juga merupakan salah satu bahan makanan yang sering menimbulkan alergi.

Alergi bukanlah sebuah penyakit tetapi alergi adalah sebuah reaksi yang tidak normal terhadap suatu zat asing yang masuk ke dalam tubuh manusia. Zat asing itu juga disebut dengan alergen jadi bagi seseorang yang menderita alergi telur maka zat alergennya adalah telur. Ketika seseorang memiliki alergi terhadap telur tubuh orang tersebut akan merespon seakan-akan telur adalah zat yang berbahaya bagi tubuh sehingga tubuh akan menunjukan berbagai macam tanda bahwa tubuh tidak dapat menerima telur yang dimakan.

Alergi pada telur ini lebih banyak diderita oleh anak-anak pada usia dibawah 5 tahun karena pada masa-masa tersebut sistem kekebalan anak belum terbentuk secara sempurna. Kebanyakan orang alergi terhadap protein yang berada dalam putih telur, karena protein dalam putih telur dianggap sebagai ancaman, maka tubuh menggunakan zat antibodi untuk melawan protein tersebut. Seseorang yang mengkonsumsi telur tetapi dirinya alergi terhadap telur biasanya akan mengeluarkan gejala seperti gatal, muncul ruam merah dan pembengkakan oleh karena itu sering orang umum mengkaitkan alergi tersebut dengan penyakit bisul.

Secara umum, mengkonsumsi telur tidaklah menyebabkan timbulnya bisul namun bagi sebagian orang yang memang memiliki alergi terhadap telur terkadang bisul ini dapat muncul karena reaksi tubuh dari alergen tersebut. Hipersensitif terhadap makanan tertentu adalah penyebab sekitar sepertiga dari penderita dermatitis atopik. Jadi bagi seseorang yang memang memiliki alergi terhadap telur dapat menimbulkan reaksi ekstrim dan dapat menimbulkan komplikasi oleh bakteri Staphylococcus penyebab penyakit bisul.

Seseorang yang memiliki alergi terhadap telur biasanya bisul akan memebentuk suatu kantong pada area yang terkena sehingga ketika orang tersebut mengkonsumsi telur maka akan timbul reaksi alergi dan terjadi penumpukan nanah kembali pada daerah yang sebelumnya terkena bisul karena sebelumnya ada kantong yang telah terbentuk.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa telur bukanlah penyebab dari bisul tetapi telur dapat menyebabkan bisul sulit untuk disembuhkan jika memang orang tersebut memiliki alergi terhadap telur. Tetapi bagaimana jika orang tersebut tidak alergi berarti boleh mengkonsumsi telur sebanyak-banyaknya. Tentu saja tidak sebaiknya untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari konsumsi telur maksimal 2 butir saja perhari karena terlalu banyak mengkonsumsi telur juga dapat menyebabkan asupan protein dan lemak tubuh menjadi berlebih.

Dan bagi anda yang memiliki alergi terhadap telur sebaiknya untuk mencegah timbulnya penyakit bisul dan dermatitis atau gangguan lainnya sebaiknya hindari konsumsi telur dari menu harian anda, karena cara terbaik untuk mencegah timbulnya reaksi alergi adalah dengan menghindari alergen. Semoga informasi mengenai fakta dan mitos hubungan telur dan penyakit bisul dapat terjawab sudah.